Monday, 19 November 2018

Sejenak Perjalanan Karya Yusnia Efendi

Petani Kata || Memandang tepat kearah mataku, bak mentari menghangatkan dikala pagi. Lalu ku telusuri arah langkah yg gontai menjemput nurani. Fikirku kalut menjamu masa lalu, kau menolak lupa. Senja baru akan tiba, membuka mata yang sejenak tertidur untuk mengahiri hari kemarin. Aku tidak sengaja melupa tentang apa yang terjadi kemarin, dan aku tak ingin kau menjadi memoriku, untuk menginggat masa yang dulu pernah ada.

Sejenak Perjalanan

Maafkan aku, bukan inginku untuk melupakan perjalanan kita, tetapi waktu yang memaksaku. Maafkan aku, memaafkan akan memberi sedikit ruang pada hatimu. Esok akan ku ingat tentang perjalanan klasik kita, kala senja dirundung rindu. Kita bertemu karna aku pelupa dan aku akan meningggalkanmu karna aku melupakanmu.

Tatap mataku, agar aku bisa melihat kau meneteskan air mata, agar aku tau kesedihan yang kau rasakan. Maafkan aku jika hari ini aku tak bisa menginggat kamu. Jangan salahkan aku, karena akupun tak mengingginkan itu terjadi.

Sejenak perjalanan. Sebuah kisah klasih yang terukir rapi didinding relung hati dua insan, mendadak runtuh. Karena tak mampu ku ingat, memberikan rasa sakit pada seseorang yang kucinta, memberi luka terdalam dan tetesan air mata karna aku tak mampu memangil namamu dengan benar.

Oh hati, kau pantas bahagia dengan yang lain dengan hati yang mampu mengingat siapa namamu di kala rambutmu mulai memutih, dikala senja datang untuk menikmati secangkir kopi.

Kekasihku masa lalu itu hanya milikmu, aku seperti di tempat yang baru setiap hari, bertemu wajah-wajah lama tetapi selalu baru dalam ingatanku. Rapuhnya memoriku untuk bisa duduk bersama ketika musim gugur dan menceritakan pertemuan pertama kita, kencan pertama kita, itu semua aku pun tak inggat.

Sejenak perjalanan, kau adalah wanita terhebat yang pernah ada dalam hidupku. Terimakasih kekasihku kau telah menjadi memoriku untuk selama ini, meski aku selalu menyakitimu dan tak mampu menginggat siapa namamu. Engkau pantas bahagia dengan yang lain. Dengan seseorang yang mampu melindungimu, dan mampu mengusap air matamu dengan lembut. Karna kau terlalu cengeng.

Senja telah datang, badanku terasa lelah, inginku beristirahat untuk menutup hari ini. Tataplah mataku sebelum aku melupakan semua perjalanan ini. Putarlah badanmu jangan pernah membelakangiku, aku taudisaat itu kamu sedang meneteskan air matamu. Maafkan aku yang telah membuatmu menangis seharian. Terimakasih matahariku.

Penulis: Yusnia Efendi
iG        : Yusnia_efendi

2 comments


EmoticonEmoticon