Thursday, 22 November 2018

Cinta Tanpa Tapi Karya Yusnia Efendi

PETANIKATA || Pernah terukir cerita tentang kita, menulis senyum mengembang dalam setiap rasa. Semua sangat indah cerita kita. Tentang bintang malam, tentang puncak, dan tentang perjalanan. Semua sirna hilang, hanya saja kau meningalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

Ketika aku tak pantas untuk mu, maka aku akan mengindahkan untuk menjadi temanmu. Sakit yang ku rasa bila melihat senyum indah itu bukan untukku.

Ada yang harus ku perjuangkan, sekarang atau tidak selamanya. Ungkapkan rasa, temui cinta. Ku inginkan cerita kita tidak hanya sampai disini. Apakah kau masih ingatkah dulu, ketika aku ucapakan janji suci memilih untuk saling mencinta. Akupun sangat bahagia semua seperti tersenyum padaku bahkan lampu taman kota itu menutup mataku dalam bahagia.

CInta Tanpa Tapi Karya Yusnia Efendi
pict by Instagram: @yusnia_efendi
Apakah kau masih ingat ketika kau ucapkan “kita udahan dulu, dan untuk kedepanya tidak ada yang tau jadi jangan pernah marahan” Entah kenapa kau begitu berkesan, otakku terus merangsang untuk mengenangmu, untuk mencari kabarmu. Lelah aku menahan rasa ini, semakin lama aku hanya akan menyiksa diri.

Aaah.. bodoh sekali aku, untuk ucapakan “Aku Cinta Padamu” begitu sulit, mulut terasa terkunci.

Hay cintaku, kemarilah kita duduk menikmati sunrise dan aku akan ceritakan tentang cintaku yang lama ku pendam, sejak kau memilih untuk berteman. Apakah kau tahu... ?? hanya kaulah yang membuat hatiku berdebar, hanya namamu yang selama ini masih terukir dihatiku. Tak usah kau tanyakan tentang rindu padaku karna aku selalu rindu. Ataukah kita diciptaakan seperti hujan dan mendung ?? yang diciptakan secara beriringan, tapi tak untuk bersama.

Hay wanitaku, cukup kau hukum aku sampai disini, mari kita lanjutkan cerita kita yang tertunda. Cerita tentang hari indah bersama. Entahlah atau mungkin saja aku yang rindu engkau tidak. Atau mungkin hanya aku saja yang mencintaimu dan engkau tidak.

Apakah seperti ini akhir cerita yang lama ku rindukan. Berujung gelisah, dalam diam, kuterus berdoa bahwa kaulah wanita yang dikirim tuhan untukku. Cintai aku meski kelak aku akan menua dan terkadang lupa kau ini siapa. Maka aku akan mencintaimu terus dan terus TANPA TAPI.

Penulis     : Yusnia Efendi
Instagram : Yusnia_efendi


EmoticonEmoticon